Keindahan Bukit Tandus di Gunung Kidul


Gunung Kidul sebuah kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wonosari sebagai ibukotanya. Kesan pertama ketika memasuki regol”gapura” Selamat Datang di Kabupaten Gunung Kidul, adalah kesan kering dan tandus. Imajinasi sebagai daerah yang kurang subur muncul disaat terlihat jarang sekali pemukiman penduduk disepanjang jalan. Hutan-hutan jati nampak meranggas, seolah berteriak minta air. Penjual belalang nampak duduk termenung menjajakan jualannya yang direnteng dalam seutas tali.

Perjalanan yang jauh semakin menuju kearah selatan, namun yang terlihat hanyalah perbukitan yang nampak kering dan gersang. Gunung Kidul sisi selatan memang didominasi oleh perbukitan karts “kapur” yang terhampar dari sisi barat hingga timur. Akhirnya perjalanan berbelok arah menuju sebuah kecamatan Giring. Sebuah kecamatan yang diambil dari sebuah tokoh Babat Tanah jawa. Fragmen babat alas mentaok yang salah satu kisahnya adalah KI Ageng Pamanahan yang salah meminum kelapa Muda, yang menjadikan putranya Sutawijaya sebagai perintis kerajaan Mataram. Kiai Giring adalah tokoh yang memberikan kelapa muda tersebut, sehingga dijadikan nama Kecamatan hasil pemekaran dari Saptosari.

Di Desa Candi, Kecamatan Giring, ada sebuah lahan yang luas dengan tanaman Jatropoda “Jarak Pagar”. Tanah lincat yang kering dan keras, serta debu-debu yang menyesakan hidung dan memedihkan mata menghiasi perjalanan menuju sebuah goa vertikal. Lueng Leng, begitu penduduk setempat memberi nama. Sebuah Goa vertikal dengan kedalam sekitar 160m, dengan diameter sekitar 100m. Dari atas terlihat seperti sumur raksasa dengan lobang yang menganga, namun dibawah sana ada ada taman eden.

Berjalan memutar dari sisi mulut gua yang lain yang terletak disisi barat laut, mencoba menyusuri mulut gua. Sebuah jalan curam dan terjal sekitar 50m menyambut. Dibutuhkan ekstra hati-hati untuk melintasi anak tangga alam dengan barbagai macam ukuran. kaki tangan kadang harus berkompromi untuk memanjat dan merayap, agar tidak jatuh bebas dihamparan batuan kapur.

Setelah melipir disisi kanan pintu masuk, sebuah anak sungai dengan batu kapur putih menyambut kaki yang gemetar saat turun. Air yang jernih dan dingin seolah melepas dahaga dibalik perkebunan Jatropa yang gersang. Berjalan masuk di kedalam Goa, hawa lembap menyambut disertai tetesan air dari atap gua. Stalaktit dan stalagmit nyaris sempurna disisi kanan kiri goa yang nyaris tidak tersentuh tangan manusia.


Perjalanan berakhir di Pantai Ngrenean yang teletak disebuah teluk kecil yang membentuk laguna. Cekungan alam yang dikelilingi tebing karang sebagai pembatas ombak, memberikan suasana tenang. Ombak yang hanya riak-riak kecil menjadikan suasana teduh dan tenang, seolah membungkam stigma Pantai Selatan dengan ombak ganasnya. Ditemani kepiting saus tiram dan ikan segar yang di goreng garing, menghantar sang surya keperaduannya. Warna jingga yang temaram digaris pantai menambah hangat suasana senja itu.

Gunung Kidul dengan imajinasi daerah yang kurang air, ternyata mampu dipatahkan Lueng Leng layaknya surga yanh tersembunyi. Dua pantai disisi barat Gunung Kidul menjadi bukti selanjutnya bahwa dibalik daerah yang tandus menyimpan sejuta keindahan alam dan kekayaan lautnya. Pesona Gunung Kidul tak akan meranggas layaknya daun Tectona dimusim kering atau sekering perbukitan karts, namun akan terus mengalir layaknya sungai bawah tanah yang memberikan kehidupan dibalik tanah tandusnya.

sumber: kompasiana

Tentang etan'e pasar

..layang-layang bisa terbang karena melawan angin, bukan terbawa angin..
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Ragam Markohot dan tag . Tandai permalink.