Nasi Kikil Mojosongo bu Ida

Usai berziarah ke Makam KH Abbdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pondok Pesantren Tebuireng, belum lengkap jika tidak menikmati sajian nasi kikil khas Mojosongo. Konon, nasi kikil dapat meningkatkan gairah pria.

Di sepanjang jalan KH Hasyim Asy’ary, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang ini berdiri deretan warung nasi kikil yang menggugah selera. Nasi kikil berisi campuran nasi kikil dan sayur lodeh. Kikil menjadi penggenjot stamina karena kandungannya yang kaya protein. Namun bagi penderita darah tinggi atau kolestrol disarankan tidak menyantapnya agar lemak dan kolestrolnya bertambah tinggi.

Salah satu warung penjual nasi kikil di daerah tersebut adalah Jumaida. Sepintas, di warung berukuran 3 meter X 7 meter miliknya terlihat tidak jauh berbeda dengan warung nasi kikil pada umumnya. Yang membedakan, penyajian nasi kikil Ida, sapaannya, juga dicampur dengan tewel atau nangka muda, ati dan paru, serta perasan jeruk nipis. Aroma lodeh tewel dan perasan santan ini yang menjadikan nasi kikil kian membuat ketagihan para penikmatnya.

Tak cukup disitu, menyantap nasi kikil tidak menggunakan piring Melainkan dengan daun pisang yang masih hijau dibentuk kerucut, istilah Jawa pincuk. Dengan pincuk, penjual nasi kikil tidak harus susah untuk mencuci piring.

Ramainya pengunjung, membuat Ida harus menyediakan 15 kilogram nasi sekali setiap hari, buka dari pukul 16.00 WIB -00.00 WIB. Untuk bahan kikilnya, Ida harus menyiapkan 20 atau 25 biji buah kaki sapi dan kambing. Selain itu juga ditambah dengan daging, hati, serta lidah. Untuk harga yang ditawarkan lumayan murah. Satu porsi hanya 6 ribu. Sedangkan untuk tambahan lauk pauk berupa daging, hati, dan limpa.

Menurut Ida, cara membuat nasi kikil lumayan susah. Karena setiap hari dirinya harus menyediakan kikil yang berasal dari sapi tua dan untuk memasaknya pun memerlukan waktu lama. “Idealnya, agar kikil ini terasa empuk, harus dimasak selama 24 jam,” katanya.

Namun Ida memiliki resep tersendiri agar kikil itu terasa empuk. Menurutnya, resep ini dirahasiakan, karena didapat dari almarhum ibu dan neneknya yang mendirikan warung tersebut. Memang, warung warisan itu sudah berdiri sebelum dirinya lahir. Padahal sekarang, ibu dua anak ini usianya sudah hampir 43 tahun. Dalam silsilah keluarga, Ida termasuk generasi ketiga penerus warung nasi kikil.

Muhammad Thohir, warga Kecamatan Widang, Tuban mengaku sering mampir ke warung tersebut. Saat mampir bersama rombongan sepulang ziarah dari makam Gus Dur, makan nasi kikil terasa nikmat ketika menggunakan pincuk. Selain terlihat alami dan klasik, ada mitos untuk menggenjot stamina pria. “Entah terbawa mitos atau tidak yang jelas nasi kikil memang lezat,” katanya di sela-sela menikmati nasi kikil Warung Bu Ida.

sumber: http://www.okefood.com/

Tentang etan'e pasar

..layang-layang bisa terbang karena melawan angin, bukan terbawa angin..
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Genesis Markohot dan tag . Tandai permalink.